A Short Brief Of Communism
Komunisme
1.
Definisi Komunis/komunisme
Kata komunis berasal dari bahasa Latin, yaitu “Communis”
artinya milik bersama dan kata komunis disandarkan kepada Karl Mark dan Lenin
yang merupakan sosok dibalik perkembangan komunisme/sosialisme.[1] Istilah
komunisme dan sosialisme menunjukkan makna yang sama, tetapi kata komunisme
dipandang lebih radikal. Alasannya adalah komunisme menuntut penghapusan secara
total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan yang
lebih baik, bukan dari kebaikan pemerintah, akan tetapi dari perjuangan kaum
miskin/terhisap.[2]
Hunt mengatakan bahwa “socialism and communism are virtually interchangeable
terms. The essence of both is that the means of productioin shall belong to the
community”.[3]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata komunis diartikan dengan
penganut paham komunisme. Adapun terminologi menurut KBBI adalah paham atau
ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx, yang hendak
menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik
bersama yang dikontrol oleh negara.[4] Mohammad
Natsir mengatakan bahwa:
“Komunisme dalam mencapai kemakmuran
menekan dan memperkosa tabiat dan hak-hak asasi manusia. Sedangkan kapitalisme
dalam memberikan kebebasan kepada setiap orang, tidak mengindahkan
perikemanusiaan dan hidup dari pemerasan keringat orang lain dan membukakan
jalan untuk kehancuran kekayaan alam.”[5]
Pada essensinya, komunisme adalah sebuah gerakan revolusioner yang
berlandaskan bahwa seluruh struktur masyarakat harus dirubah selama masih ada
peristiwa penindasan sesama manusia (kapitalisme).[6]
2.
Sejarah Singkat Komunisme
Istilah komunisme muncul di Prancis sekitar tahun 1830 bersamaan
dengan lahirnya kata sosialisme, semula dud istilah tersebut memiliki makna
yang sama, tetapi kata komunisme digunakan untuk aliran sosialis yang lebih
radikal.[7] Karl
Marx mengungkapkan pemikiran mengenai ideologi komunis pertama kali dalam
sebuah pamflet yang ditulis bersama dengan Predrick Engels pada tahun 1848
diberi judul “The Communist Manifesto. Latar belakang munculnya
pemikiran komunis lahir dari hasil pengamatan terhadap situasi sosio-politik
ekonomi di Eropa Barat, karena saat itu Eropa Barat sedang berada dalam situasi
transisi dari kondisi masyarakat agraris menuju arah pertumbuhan industrialisasi
serta menjadi pusat ekonomi. Pada literatur lain menyebutkan bahwa konsep
komunisme bukan baru muncul abad ke-19, namun telah muncul pada abad ke-16.
Pada saat itu bentuk kapitalisme mulai tumbuh. Pada tahun 1516 Thomas More
menulis sebuah opini yang berjudul Utopia. Essay tersebut diikuti oleh
Tommaso Campanela pada tahun 1623 yang juga menulis Civitas Solis (City of
Sun). Disusul oleh tulisan dari
Francis Bacon dengan judul New Atlantis pada tahun 1627 dan pada tahun
1658 James Harrington menulis The Ocean.[8]
Sampai pada akhirnya, Marx dan Engels mengenalkan lebih luas dan
memperdalam ajaran komunisme. Pemikiran Marx dan Engels dikenal dengan sebutan
Marxisme, hal ini dikarenakan Karl Marx memberikan sumbangsih pemikiran yang
lebih penting dibandingkan Engels. Kemudian dikembangkan kembali oleh Lenin,
seorang pengikut Marxisme dari Rusia. Lenin memberikan pandangannya bahwa
proses sejarah dapat dipercepat, tentu berbeda dengan Karl Marx yang mengatakan
terbentuknya masyarakat komunis dapat diibaratkan dengan jatuhnya buah yang
matang dari pohon, apabila buah sudah matang barulah bisa jatuh. Artinya
revolusi akan meletus di suatu negara yang kapitalismenya telah maju/krisis
maka revolusi pasti akan datang dengan sendirinya.[9] Dua
karya tulis Lenin dengan judul The Development of Capitalism in Russia and
Imperialism, The Highest Stage of Capitalism menjadi penting untuk pijakan
seorang lenin dengan nama lengkap Vladimir Ilich Lenin dikenal sebagai bapak
revolusi Rusia mewujudkan ideologi komunisme dalam negara Rusia pada tahun 1917
atau dikenal dengan revolusi Bolshevik. Revolusi tersebut mampu mengguncangkan
maraknya kapitalisme monopoli dan Imperialisme hingga jatuh terguling.[10]
Masuknya ideologi komunis ke Indonesia pada tahun 1913 yang diperkenalkan
oleh Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet. Dia merupakan seorang
mantan Ketua Revolusioner Buruh Nasional dan mantan pimpinan Partai
Revolusioner Sosialis di salah satu provinsi Belanda. Pada awalnya, Sneevliet
bekerja di Surabaya sebagai staff bagian redaksi warta perdagangan Soerabajasche
Handelsblad yang dimiliki oleh sindikat perusahaan-perusahaan gula Jawa
Timur. Kemudian, dia pindah ke Semarang, yang pada saat itu menjadi pusat
organisasi buruh kereta api Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP/Serikat
Personil Kereta Api dan Trem) yang berdiri sejak tahun 1908. Singkatnya pada
bulan Juli tahun 1914 Sneevliet bersama P. Bersgma, J.A. Brandstedder, H.W.
Dekker (Sekretaris VSTP) mendirikan organisasi politik radikal bernama Indische
Social Democratische Vereeniging (ISDV) atau Serikat Sosial Demokrat India.
Melalui surat kabar Het Vrije Woord (suara kebebasan) inilah Sneevliet
dan kawan-kawan menyebarluaskan propaganda pemikiran Marxisme.[11]
Akan tetapi dalam mengembangkan pemikiran komunis Sneevliet dan
kawan-kawannya tidak mendapat dukungan dari rakyat dan anggotanya hanya
didominasi oleh orang Belanda, oleh karena ISDV dan VSTP memiliki inisiatif
untuk merangkul anggota-anggota SI (Sarekat Islam) yang dipimpin oleh Haji Oemar
Said Tjokroaminoto. Pada saat itu SI sangat berkembang yang berlandaskan
nasional-Islam bertujuan untuk membebaskan dari kolonialisme Belanda. Akhirnya,
Semaoen menjadi tokoh SI pertama yang ikut menjadi propagandis sarikat buruh.
Semaoen pertama kali bertemu dengan Sneevliet pada tahun 1915 di Surabaya yang
dalam pertemuan tersebut, Semaoen mempelajari tentang sosialisme, tidak butuh
lama Sneevliet mampu memindahkan Semaoen ke dalam anggota ISDV dan VSTP. Karena
Semaoen juga bekerja sebagai redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan Sinar
Djawa-Sinar Hindia yang dimiliki oleh koran Sarekat Islam, dari sinilah
Semaoen telah menyusun propaganda-propaganda.
Pada perkembangannya ISDV berubah menjadi Partai Komunis Indonesia
(PKI) yang menjadi ketua pertama adalah Semaoen.[12]
Terdapat persimpangan sejarah radikalisme di Asia Tenggara yang menghubungkan
antara komunis Filipina dan Indonesia. Tan Malaka sebagai mantan ketua PKI dan
agen biro Timur Komintern menghabiskan waktu pada tahun 1920-an di Filipina.
Dalam bukunya Dari Penjara ke Penjara (1948) dan Madilog:
Materialism, Dialektika dan Logika (1943), Tan Malaka menjelaskan
detail-detail pertemuan khusus dengan Filipina. Pada awal tahun 1960-an, tidak
lama setelah kematian Tan Malaka, Jose Maria Sison (1939) seorang aktivis
Filipina dan mahasiswa sastra memprakarsai fase baru dalam interaksi komunis
Filipina di Indonesia yang berlanjut sampai kehancuran PKI dalam pembantaian
1965 dan dasar partai komunis yang berorientasi pada agama di Filipina (CPP)
pada tahun 1968.[13]
3.
Paham komunisme
Ajaran komunisme tidak jauh dari gagasan bahwa kekayaan dunia
adalah kekayaan milik bersama dan lebih baik dari milik pribadi. Kepemilikan
bersama mengakibatkan dorongan sama rata dalam situasi ekonomi semua pihak
serta tidak ada kerugian di antara mereka.[14]
Negara dianggap sebagai alat mesin pemaksa (instrument of coercion) yang
akan lenyap sendiri atas menuculnya masyarakat komunis. Terdapat nilai-nilai
ajaran komunisme, yaitu:[15]
a.
Gagasan monoisme (lawan dari pluralisme). Konsep ini menolak adanya
golongan-golongan di dalam masyarakat karena dianggap perbedaan sebagai inti
dari perpecahan perselisihan.
b.
Kekerasan dipandang sebagai alat yang legal dan harus dipakai untuk
mencapai komunisme. Dalam mekanismenya diambil dua jalan yakni: terhadap musuh
dan terhadap pengikutnya sendiri yang dianggap kurang sadar atau bahkan ada
penolakan.
c.
Negara merupakan alat untuk mencapai komunisme. Tentu komunisme
akan kesulitan apabila tidak ada wadah untuk menampungnya, oleh karena itu
negara menjadi media pemahaman komunisme yang paling berguna. Alasan lain
karena negara memiliki komponen yang memudahkan komunisme seperti aparat
kepolisian, tentara, kejaksaan dalam pemaksaannya terhadap masyarakat untuk
berpaham komunisme.
Berikut pula terdapat aspek-aspek ajaran komunisme yang tertuang
dalam surat fatwa Majelis Syura Masyumi Jawa Barat pada 24 Oktober 1954, di
antara aspek ajarannya adalah:[16]
a.
Komunisme adalah falsafah yang berdasarkan materialisme-historis
(paham kebendaan berdasrkan fakta sejarah).
b.
Komunisme memusuhi agama dan mengingkari adanya Tuhan (Atheisme).
c.
Komunisme melenyapkan ikatan keluarga dan menjadikan wanita milik
bersama.
d.
Komunisme pada dasarnya melenyapkan hak milik perseorangan atas
alat-alat produksi dan kekayaan.
e.
Komunisme memperjuangkan dan melaksanakan cita-citanya dengan
sistem diktator-proletar.
[1] Suparmo dkk, Komunisme di Indonesia, jilid I, (Jakarta:
Pusjarah TNI, 2009), hlm, 5.
[2] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, (Jakarta:
Gramedia, 2001), hlm. 19.
[3] Artinya “ Sosialisme dan komunisme adalah istilah yang dapat
dipertukarkan. Substansi/isi dari keduanya adalah bahwa sarana produksi akan
menjadi milik masyarakat/komunitas. Lihat R.N. Carew Hunt, The Theory and
Practice of Communism, (New York: Penguin Books, 1983), hlm. 27.
[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2007), hlm. 585.
[5] Samsuri, Komunisme Dalam Pergumulan Wacana Ideologi Masyumi, Dalam Jurnal Millah, Vol. 1, No. 1, Agustus 2001,
hlm. 109.
[6] Arif Muhammad Hasyim, Skripsi: Komunisme Dalam Konteks
Keislaman (Studi Atas Pemikiran Haji Mohammad Misbach Pada Masa Kolonialisme
Belanda Tahun 1876-1926, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2017), hlm. 6.
[7] Erdi Rujikartawi, komunis: Sejarah Gerakan Sosial Dan
Idiologi Kekuasaan, Dalam Jurnal Qathruna, Vol. 2, No. 2,
Juli-Desember 2015, hlm. 76.
[8] Suparmo dkk, Komunisme di Indonesia, jilid I, (Jakarta:
Pusjarah TNI, 2009), hlm, 5-6.
[9] Suparmo dkk, ... hlm, 6-7.
[10] Ajat Sudrajat, Sejarah Pemikiran Dunia Islam dan Barat, (Malang:
Intrans Publishing, 2015), hlm. 223.
[11] Suparmo dkk, Komunisme di Indonesia, jilid I, (Jakarta:
Pusjarah TNI, 2009), hlm, 19-20.
[12] Hendri Raharjo, Metamorfosis Sarekat Islam, (Yogyakarta:
Media Pressindo, 2019), hlm. 86-87.
[13] Ramon Guillermo, Blood-Brothers: The Communist Party of the
Philippines and the Partai Komunis Indonesia, Dalam Jurnal Southeast
Asian Studies, Vol. 7, No. 1, April 2018, hlm 13-14.
[14] Erdi Rujikartawi, Komunis: Sejarah Gerakan Sosial Dan
Idiologi Kekuasaan, Dalam Jurnal Qathruna, Vol. 2, No. 2,
Juli-Desember 2015, hlm. 76.
[15]
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, Cet ke-15, 2018), hlm. 155.
[16] Samsuri, Komunisme Dalam Pergumulan Wacana Ideologi Masyumi, Dalam
Jurnal Millah, Vol. 1, No. 1, Agustus 2001, hlm, 115.

Comments
Post a Comment